TAKUT
Menurut saya “Takut” adalah kata yang sangat kuat esensi filosofis-nya.
Jujur, hidup saya sudah dihantui “Ketakutan” sejak dahulu kala, sampai pada batas dimana “Ketakutan” itu tidak lagi menjelma dalam bentuk ketakutan, “Ketakutan” itulah diri saya.
Ketidak pedulian adalah hal yang saya pelajari untuk menghabisi ketakutan sampai ke-akar-akarnya. Saya belajar untuk tidak peduli apa kata orang. Itulah hidup saya pada akhirnya, terus dan terus menerus belajar untuk tidak peduli.
Beruntung saya ada di tempat dimana self-acceptance-nya cukup tinggi, apalah saya tanpa acceptance dari orang lain. Apa harga dari acceptance? Kenapa saya begitu di ingin di-accept? Apakah konfirmasi itu perlu? Kalau every man for himself, apalah arti acceptance orang lain? Apa yang perlu dibuktikan?
Saya punya problem tentang hal ini, tentang penerimaan. Tentang insecurity, apakah orang akan menerima saya apa adanya, apakah saya perlu memakai topeng ekstra tebal? Apakah saya harus mengubah diri saya? Saya juga mengerti bahwa tidak segalanya bisa diterima semua orang. Yang mau menerima yasudah. Yang tidak, ya monggo. Take it or leave it saja lah.
Akhir kata, saya belajar untuk mencintai diri saya terlebih dahulu. Jika anda sendiri tidak menghargai dan meng-embrace diri anda, siapa yang akan? Starts from yourself. Sekian.
*tulisan ini adalah produk dari insekuritas berlebihan pada masa tulisan ini ditulis*