Somewhere, di Plaza Indonesia, seorang ibu membelikan anaknya yang baru 15 tahun tas Hermes Kelly.
Somewhere, di Jakarta Barat, seorang anak SMA dengan bangganya melenggang dengan Mercedes Benz baru-nya hanya untuk pembuktian bahwa dia adalah seorang yang berharga.
Somewhere, di Pantai Mutiara, seorang ibu memikirkan bagaimana caranya untuk menghambur-hamburkan uang suaminya agar segalanya kelihatan lebih sempurna.
Somewhere, di dunia maya, seorang remaja memamerkan koleksi sepatu louboutin puluhan juta yang sebenarnya tidak matching dengan tampang cina glodok-nya.
Somewhere, di dunia nyata, seorang mahasiswi tidak bisa melanjutkan kuliah(kehidupan) dan terpaksa meninggalkan semua teman-temannya hanya karena keluarganya tidak mampu (tidak mau?) untuk bahkan mengupayakan cara supaya tidak menelantarkan hidup anaknya.
Betapa seimbangnya semesta ini.
2 notes link >Tadi ada tweet yang cukup menampar muncul di linimasa saya, bunyinya demikian,
“Being ‘funny’ is not always good. People don’t want you to be angry if they bash you ‘cause funny people aren’t supposed to be angry.” @miund
Itu dia. Hal yang saya ingin ungkapkan!
Funny people are not supposed to be angry.
Saya bukannya menjustifikasi diri saya sebagai orang yang lucu loh. Tapi,
When people making fun of you, and you let them to do so, prepare for the time when you can’t do anything when they really really hit you hard.
Beginilah hidup saya. Saya tidak pernah peduli ketika orang berkata apapun tentang diri saya, walaupun hanya 10 centimeter dari batang hidung saya. So what! Saya fine-fine saja kok. Bahkan saya sendiri akan melakukan hal yang sama persis kalau ada orang seperti saya,kok.
Tapi begitulah, people don’t want you to be angry if they bash you ‘cause funny people aren’t supposed to be angry. Walaupun perkataan itu semakin tajam dan tajam, yang penting anda happy dan jadi lebih kuat dan kuat.
Sekian.
link >Menurut saya “Takut” adalah kata yang sangat kuat esensi filosofis-nya.
Jujur, hidup saya sudah dihantui “Ketakutan” sejak dahulu kala, sampai pada batas dimana “Ketakutan” itu tidak lagi menjelma dalam bentuk ketakutan, “Ketakutan” itulah diri saya.
Ketidak pedulian adalah hal yang saya pelajari untuk menghabisi ketakutan sampai ke-akar-akarnya. Saya belajar untuk tidak peduli apa kata orang. Itulah hidup saya pada akhirnya, terus dan terus menerus belajar untuk tidak peduli.
Beruntung saya ada di tempat dimana self-acceptance-nya cukup tinggi, apalah saya tanpa acceptance dari orang lain. Apa harga dari acceptance? Kenapa saya begitu di ingin di-accept? Apakah konfirmasi itu perlu? Kalau every man for himself, apalah arti acceptance orang lain? Apa yang perlu dibuktikan?
Saya punya problem tentang hal ini, tentang penerimaan. Tentang insecurity, apakah orang akan menerima saya apa adanya, apakah saya perlu memakai topeng ekstra tebal? Apakah saya harus mengubah diri saya? Saya juga mengerti bahwa tidak segalanya bisa diterima semua orang. Yang mau menerima yasudah. Yang tidak, ya monggo. Take it or leave it saja lah.
Akhir kata, saya belajar untuk mencintai diri saya terlebih dahulu. Jika anda sendiri tidak menghargai dan meng-embrace diri anda, siapa yang akan? Starts from yourself. Sekian.
*tulisan ini adalah produk dari insekuritas berlebihan pada masa tulisan ini ditulis*
link >I am fucking up too much in my life to the point that I am too comfortable with the fuckeries. #truth

Yeay, blog post pertama 2012, setelah setahun lebih nggak ngeblog dikarenakan saya harus membuat hal hal konyol diluar batas kemanusiaan seperti patung pembantu sedang mengepel, kamar untuk malinda dee, dan rumah luar angkasa untuk mas Ari Tulang (#youknowwhatimean), saya memutuskan untuk kembali mengeblog goblog untuk menghabiskan masa liburan penuh revise redo incomplete ini. (Apa itu rri? Revise redo incomplete adalah attack dari miss wildblonde untuk membunuh secara sadis para mahasiswa arsitektur ketika liburan. re: akan dibahas lebih lanjut nantinya).
Today is chinese new year and im dead sick, lets leave it to minny jackson!
